LELAKI DI MATA AYAH

sumber gambar:http://amillavtr.wordpress.com

“Anak perempuan melihat diri mereka melalui mata ayahnya, dengan lelaki seperti apa seorang Ayah ingin anak-anak perempuan mereka menikah, seperti itulah selayaknya mereka bersikap..” (Marinda Indayani).

Ketika membuka akun FB, mata saya tertuju pada sebuah status milik seorang senior  saya kuliah dulu, bunyinya seperti yang saya tuliskan di atas. Status itu kemudian mengingatkan saya tentang sepenggal pengalaman  seorang gadis dengan ayahnya yang ia tuangkan dalam sebuah buku homeschooling. Ia menceritakan bagaimana ayahnya sangat “menjaga”  anak gadisnya. Hidup di lingkungan Amerika yang hampir seluruh remaja perempuannya sudah tidak perawan dan menganggap “aneh” ketika ada remaja perempuan yang  masih perawan. Beranjak dari situlah akhirnya sang ayah memutuskan untuk menghomeschoolingkan anak gadisnya, agar anaknya tak terseret pergaulan bebas teman-temannya di sekolah. Tidak sampai di situ, sang Ayah kemudian mengawasi setiap teman pria sang anak yang datang berkunjung ke rumahnya atau pergi bersama anaknya. Beberapa aturan pun diberlakukan, tak boleh pulang larut malam, tak boleh menginap di rumah teman, dan memperkenalkan setiap teman prianya ke Ayahnya. Singkat cerita, suatu hari sang Ayah mengetahui  bahwa anak gadisnya mendaftar untuk bergabung dalam suatu tim medis karena naksir seorang pria yang juga anggota dari tim medis tersebut. Sang Ayah kemudian rela ikut mendaftar tim tersebut demi bisa mengawasi anak gadisnya. “Ayah tak bisa membayangkan kamu tidur dalam  satu ruangan yang di dalamnya ada pria.” Itu alasan Ayah. Alhasil, sang Ayah sekelas dengan anak gadisnya, dan mereka berkegiatan bersama, dan tak satupun pria yang berani mendekati sang gadis saat Ayahnya ada di sampingnya. Sang Ayah rela dibangunkan tengah malam oleh Pembina ketika ada kegiatan mendadak, atau apel pagi, atau tidak tidur semalaman untuk berjaga…semua ia lakukan agar bisa sekelas dengan anaknya dan mengawasi nya.

Teringat Ayah saya yang saya panggil dengan sebutan Bapak. Tidak jauh beda…Bapak saya sangat overprotected. Saya masih ingat bagaimana Bapak rela menjemput saya di gerbang kompleks perumahan tempat kami tinggal jam 10 malam sepulang saya dari bimbingan belajar, supaya tidak satupun pria di kompleks saya yang akan menawarkan mengantar pulang. Menyembunyikan surat-surat dari pria untuk saya yang dikirimkan ke alamat rumah di laci meja kerjanya dan menguncinya rapat-rapat. Atau berbohong dengan mengatakan saya tak di rumah di telepon ketika ada pria yang menelpon saya, atau menanyai keperluannya sedetail-detailnya ketika ada yang mencari saya di rumah. Dan hampir semua pria akhirnya tidak berani ketemu Bapak yang selalu mensetting tampang seram ketika bertemu mereka.

Benar kata teman FB saya itu, terkadang untuk urusan pria, biasanya insting Ayah yang lebih peka. Jika ia overprotected, bukan karena ia ingin mengekang kebebasan anaknya atau agar anaknya dijauhi teman-temannya. Ia hanya ingin menjaga anaknya dengan caranya sendiri…Agar anaknya kelak tak salah pilih…terkadang sinyalnya tak mampu kita tangkap..mungkin karena kita  kurang memahaminya..Ayah…mungkin ia tak akan pernah bilang tidak untuk menyenangkan hati anaknya, tapi ia juga tak segan mengatakan tidak untuk pria yang menurutnya tak layak mendampingi putrinya. Kedengarannya sedikit egois, namun itulah Ayah yang punya cara sendiri untuk menunjukkan cintanya pada anaknya.

Jakarta, Senin,16 Mei 2011

@pagi inspiratif..rasanya ingin bersimpuh di kaki Bapak..

3 comments

  1. Nice posting sis…thank to Allah SWT that you have such a great father. Dengan kesempurnaan atau ketidaksempurnaan Ayah kita lah, kita diajari menjadi orang tua yang lebih bijak. Keep on writing!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s