SEKOLAH TOTTO CHAN

Kisah ini adalah nyata dari seorang Tetsuko Kuroyanagi  yang biasa dipanggil Totto Chan tentang masa kecilnya di sebuah sekolah yang membuatnya betah di sana. Waktu itu Totto Chan masih seorang belia, ia dikeluarkan dari sekolah tempat ia mengenyam pendidikan karena dianggap “mengganggu” proses belajar mengajar. “Mengganggu” karena kegemarannya membuka tutup laci meja untuk sekedar memasukkan buku tulis, pensil atau apapun ke dalamnya sehingga menimbulkan suara gaduh, ataupun kebiasaan Totto Chan berdiri di jendela sambil berteriak memanggil pengamen jalanan untuk kemudian berbincang dengan mereka padahal kelas sedang berlangsung, sang guru terganggu hingga Totto Chan dikeluarkan dari sekolahnya. Uniknya Totto Chan sendiri tak menyadari kalau dirinya didepak dari sekolah, berkat sang ibu yang berusaha menutupi nya agar sang anak tak sedih, ia kemudian mengajak Totto Chan ke sebuah sekolah yang terletak di kota Tokyo Tenggara.

Tomoe Gakugen nama sekolah baru Totto Chan, tiba di gerbang sekolah yang terdiri dari tanaman dan akar yang merambat. Papan nama sekolah sudah agak tua ditutupi daun-daun yang merambat. Tampak gerbong bekas kereta  berjejer yang nampaknya digunakan sebagai ruang kelas. Tak ada dinding bata yang mengelilingi sekolah mereka, hanya pepohonan yang berkeliling di sekitar gerbong. Petak-petak bunga berwarna kuning merah di halaman sekolah membuat sekolah menjadi menyatu dengan alam. Kantor Kepala sekolah berada  di sebuah bangunan berlantai satu dengan tangga batu dengan  tujuh undakan berbentuk setengah lingkaran. Menarik bukan?

Sekolah Tomoe Gakugen berdiri tahun 1937 oleh seorang pria yang sangat mencintai anak-anak bernama Mr. Kobayashi. Ia sangat peduli dengan pendidikan anak dan sangat menyukai sesuatu yang berbau alami. Sekolah Tomoe Gakugen  bukan hanya sebuah potret sekolah yang sederhana tapi lebih dari itu, Mr. Kobayashi berhasil membuat sekolah itu mampu membuat anak-anak enggan beranjak pulang meski kelas telah usai atau ingin segera sampai di sekolah ketika pagi menjelang. Coba bandingkan dengan cerita seorang praktisi pendidikan, Ayah Edi dalam bukunya  “I Love You, Ayah Bunda”, ia menjumpai sekelompok anak sedang khusyu’ di sebuah warnet jam sekolah, ketika ia bertanya musababnya, anak sekolah itu menjawab bahwa kelas tempat ia belajar membosankan dengan guru yang hanya memberi tugas untuk diselesaikan setelahnya ngeluyur pergi. Hemh…mungkin bukan sepenuhnya kesalahan kelas, guru juga ikut andil dalam betah atau tidaknya seorang anak di sekolah. Begitu pula dengan sekolah Tomoe dengan sekolah yang menyatu dengan alam memang menarik, tapi yang terpenting adalah peran Mr. Kobayashi dalam mendidik anak-anak di sana. Mereka tidak hanya mendekam di kelas mengerjakan banyak tugas di buku tulis, tapi mereka juga berkeliling melihat bunga yang sedang mekar, menjelaskan tentang putik dan benang sari, bahkan sampai memberi tugas anak didiknya untuk  membawa bekal dengan sesuatu yang berasal dari  pegunungan atau laut. Mr. Kobayashi meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dengan  watak yang baik, yang dengan mudah bisa rusak oleh lingkungan mereka atau pengaruh buruk orang dewasa. Kealamiahan juga merupakan kiblat Mr.Kobayashi yang tergambar dari fisik sekolah Tomoe Gakugen sekaligus perwujudan filosofi bahwa setiap anak didiknya akan berkembang secara alamiah menjadi orang dewasa berkepribadian khas.

Meskipun Sekolah Tomoe Gakugen akhirnya musnah terbakar pada tahun 1945 oleh ledakan bom akibat perang dunia di Jepang pada saat itu, namun Tetsuko Kuroyanagi berhasil mengabadikannya dalam sebuah buku berjudul “Totto-Chan, Gadis Kecil Di jendela”, semoga bisa menginspirasi kita bahwa sebuah sekolah tidak perlu bergedung mewah yang massif, namun bagaimana sekolah itu dapat dicintai anak-anak dengan pendidik yang menghargai watak anak didiknya dan punya cara yang unik dalam membuat anak betah belajar di sekolah. So let’s make the next “Tomoe Gakugen School”…!!!!

@Sore inspiratif ditemani faris yang ngobok-ngobok secangkir teh ku…

Jakarta, 4 Mei 2011

Sumber: 

– Kuroyanagi,Tetsuko. ”Totto Chan, Gadis Kecil Di jendela”, Jakarta, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2010


– Ayah Edy, “ I love you, Ayah Bunda”, Penerbit Hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s