PIHAK KE TIGA

Sibuk!Itu yang kutangkap ketika mengamati tingkahlaku setiap orang sore itu di bandara. Sibuk berlalu lalang sambil membawa koper, ada yang sibuk berkutat dengan handphone di tangan, ada yang sibuk celingak celinguk sedang menunggu seseorang sepertinya. Ah, aku memang terlalu cepat tiba di bandara, karena takut ketinggalan pesawat sedangkan pesawatnya sendiri belum juga menampakkan diri. Kalau tahu begini lebih baik tadi aku bermain-main yang lama dulu dengan putra-putriku di rumah. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk bahu ku..
“Astagfirullah!”Aku terkejut.
“Apa kabar ,Gus?Kamu udah ganti nomor ya,kok nomor yang lama gak bisa dihubungi.” Ternyata yang membuat aku terkejut adalah wanita itu, yah wanita dari masa lalu, yang kutinggalkan ketika aku menikahi istriku, nunung, 5 tahun silam.
“Kok diam saja, Gus. Sori, aku ngagetin ya?”Aku mulai risih dengan wanita satu ini, dia terlalu agresif, pikirku.
“Eh, anu..mau kemana?kok ada di sini?”Aku mulai mencair tapi masih dengan nada kaku..dan pihak ketiga itu mulai muncul, dia yang menginstruksikanku untuk segera mencair sebelum di cap sombong…ah!!syaithon memang selalu muncul ketika dua orang yang bukan mahrom bertemu, tak peduli itu di tempat ramai seperti ini.
“Aku mau ke Jakarta, lagi ada keluarga ku yang menikah di sana.”
“Sama kalau gitu, aku juga lagi ada tugas kantor.”Dalam hati aku memaki diriku sendiri, kenapa kata-kata itu keluar lancer dari bibirku. Bahkan akupun tidak bisa meninggalkan wanita ini dan terus saja melayaninya ngobrol. Dan pihak ke tiga itu semakin tersenyum melihat kami berdua. Pihak ketiga itupun semakin tersenyum lebar ketika ternyata aku duduk bersebelahan di pesawat dengan wanita itu. Yah, wanita itu sudah menukarkan tiketnya hanya untuk bisa duduk bersebelahan denganku, dan aku pun tak menolak!
Handphoneku berbunyi, dan itu panggilan dari istriku,nunung. Mendadak muncul sosok cantik istriku dibenakku,ah ini peringatan untuk segera menjauh dari wanita di sebelahku ini. Dan pihak ketiga itu merengut, senyumnya hilang dari wajahnya, apalagi ketika aku meminta pria yang berada di dekat jendela bertukar tempat denganku.”Aku ingin menikmati pemandangan langit “kilahku pada wanita itu dan semakin membuat pihak ketiga syaithon merengut. Berkali-kali wanita itu ingin mengajak ku ngobrol, bahkan dia berkali-kali meminta nomor handphoneku dan aku menolak dengan 1001 macam alasan. Manusia tidak tahu malu pikirku. Dan aku mengambil posisi tidur saja supaya ia tidak terus menggangguku.
Tidak terasa pesawat mendarat mulus di bandara. Alhamdulillah, pikirku. Aku ingin segera pergi dari tempat ini sebelum pihak ketiga syaithon mulai mengeluarkan triknya lagi. Tidak ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulutku, untuk wanita itu, terserah ia mau bilang apa. ku kupacu langkahku menuju mushola kecil dibandara, aku ingin segera menghadapNya, memohon ampun dan perlindungan, agar pihak ketiga itu tidak menggangguku lagi, minal jinnati wa nnas.

Menemukan cerpen lama…
@cheitumminyafardais

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s