SANCA

SANCA

Sebuah pesan singkat di ponselku berbunyi, “Jadikan kita jemput Sanca hari ini?”. Kutepuk jidatku, karena asyik dengan orderan desain baju pengantin sahabatku,aku jadi lupa kalau ada janji dengan mas Angga hari ini. Menjemput Sanca di bandara, ya …Sanca…ia adalah adik ipar yang sejak awal pernikahan hingga menginjak tahun kedua pernikahan kami,belum pernah kulihat wujud aslinya karena dia sedang  kuliah di Amerika. Sanca yah…Sanca adalah adik bungsu mas Angga.

*****

“Nama itukan doa mas, kok bapak memberi dia nama Sanca?”Protesku, ketika mas Angga memperlihatkan foto2 keluarganya, dan menunjukkan Sanca kecil.

“Kalo menurut Bapak, nama itu adalah moment saat dia lagi senang sesuatu. Waktu ibu hamil Sanca,Bapak lagi senang dengan motif ular sanca batik…Jadi, Bapak mengabadikan moment kesenangannya dengan memberi nama anak bungsunya Sanca Batik.”

“Untung mas panggilannya “Angga” bukan “Mangga” padahal nama mas kan Mangga Ranum, hahaha.” Tawaku tak membuat sedikit senyumpun di wajah mas Angga…wah, gawat rupanya ia terganggu karena kusinggung namanya…ah, tiba-tiba dua tahun pernikahan waktu yang  belum  cukup mengenalnya 100%.

*****

Hiruk pikuk manusia kelas menengah atas berseliweran di hadapanku. Ramai benar bandara sore ini, pikirku. Dari kejauhan, Nampak seorang pria melambaikan tangan ke arah kami. Itu kah yang bernama Sanca? Aku sedikit berlari mengikuti mas Angga yg berjalan cepat menghampiri pria itu.

“Hei, Brother! How are u!” Dipeluknya mas Angga, sejenak mereka larut dengan obrolan kecil sampai melupakanku. Kuperhatikan sosok Sanca, tidak ada kemiripan di antara dia dan mas Angga. Kulitnya lebih gelap, mas Angga putih,…namun kulit gelapnya Sanca pas lah dengan postur tubuh nya yang cukup kekar untuk ukuran seorang laki-laki..mas Angga jadi kelihatan mengecil di hadapan Sanca.

“Oh,ya…hampir lupa aku, ini lho mbak mu..namanya Sarah.” Mas Angga memperkenalkanku pada Sanca. Aku sedikit kikuk…

“Wow…this is your wife!”Seru Sanca setengah terperanjat, yang menurutku ekspresi berlebihan. “She’s so beautiful!” Matanya seperti menelanjangiku dari atas hingga bawah, ekpresi yang tidak pantas untuk dilakukan kepada wanita berjilbab nyaris sempurna sepertiku! Ingin rasanya kutinju dua bola matanya yang menyebalkan itu, jika tak ingat kalau dia adalah adik Mas Angga.

“Can I hug her?” Tanya Sanca ke Mas Angga.

“Tidak!!we’re not mahrom!”Kataku cepat dan tegas sebelum mas Sanca memberi lampu hijau, aku dan Mas Angga memang sering berbeda pendapat tentang batasan interaksi wanita dan pria yang bukan mahrom. Maklum Mas Angga menemukanku sebagai seorang aktifis dakwah kampus yang punya idealism tinggi apalagi menyangkut aturan agama. Sedang ia lelaki lulusan luar negeri yang terbiasa dengan pluralisme dan toleransi tinggi. Tapi, untunglah setelah mendebatku ia pasti akan memihakku, terutama ketika ia membawaku ke tengah-tengah keluarganya yang kental dengan budaya kejawen..Inilah tantangan terberat setelah kuputuskan menerima lamaran mas Angga lewat dosen ku di kampus.

“Sudah…sudah…ayo kita pulang, I’m sure, bapak dan ibu sudah tidak sabar ingin bertemu kamu, San.” Tuh kan apa ku bilang, Mas Angga pasti akan segera menyelamatkanku sebelum Sanca Batik bertanya macam-macam. Kami bertiga bergegas pulang, namun berapa kali ku tangkap basah Sanca melirik ku, ketika lirikannya mulai nakal kupelototi ia, ia hanya tersenyum. Perasaanku mulai tak enak, ia mulai mirip ular!

****

“Mas, Sanca itu aneh deh, reaksinya itu lho,mas..overacting!.” kataku ke Mas Angga saat kami dalam perjalanan pulang dari rumah bapak.

“Maklum lah Sar, dia kan anak teater di Universitas Florida, wajarlah kalau dia terlihat ekspresif.” Kata Mas Angga tenang, hahh, itu memang style Mas Angga, beda denganku yang meletup-letup. Mungkin juga karena perbedaan usia 10 tahun di antara kami.

“Tapi, mas..aku nggak nyaman,bener deh.”

“Tenang Sar, kamu belum terbiasa aja..”

“Belum terbiasa bagaimana maksud Mas! Mas ini gimana sih, aku tuh tadi merasa dilecehkan, eh mas malah tenang-tenang saja, aku jadi curiga, mas sayang gak sih sama aku!!” Aku mulai mengoceh tak karuan. Ciiittttttttt…!!!!! Tiba-tiba mas Angga menginjak rem mendadak. Memutar balik mobilnya….tanpa bersuara, hanya kuliat ada sedikit gurat tegang di wajahnya, hanya sedikiiiiit..aku tertegun.

“Kita mau kemana,mas?” Tanyaku hati-hati kali ini dengan nada pelan, di benakku Mas Angga pasti akan mendatangi Sanca di rumah Bapak. Melabraknya dan……

“Membelikanmu es krim cokelat,dek….supaya kamu tidak mengebul” Kali ini Mas Angga tersenyum manis, mendadak aku merasa diperlakukan seperti anak kecil, tapi kuurungkan melanjutkan emosiku, mengingat betapa lezatnya es krim favoritku itu. Betul-betul pengalihan isu namanya.

*****

Seusai sholat Shubuh, aku sibuk mempersiapkan bahan presentasi Mas Angga, ia akan bertemu klien jam 9 pagi. Mas Angga memang lebih senang bahan-bahan presentasinya dipersiapkan olehku dari pada sama sekertarisnya di kantor, katanya aku lebih detail.

“Sar, tar kalo Sanca datang,tolong bilang ke dia, tunggu saja, aku akan antar dia ke IKJ sepulang aku dari kantor.”

“Haaa!!Sanca mau datang sekarang!”

“Lho,iya… memang kenapa?”

“Apa sebaiknya nunggu mas pulang, baru ia datang?.”

“Hemh….”Belum sempat Mas Angga menjawabku, dari luar sudah terdengar klakson mobil memanggil untuk segera dibukakan pintu. Selang beberapa menit kemudian….Terlambat, Sanca sudah berdiri di depan pintu masuk, tersenyum lebar..

“Mas, sekalian aku nginap sini ya..” Kata Sanca sambil melirikku nakal. Mas Angga membolehkan sambil sibuk dengan file-filenya di laptop, tanpa menoleh sedikitpun..Sanca menginap?perasaanku mulai tidak enak lagi.

*****

Jika tak karena janji akan menunggu sahabatku yang akan mengambil desain baju pengantinnya, mungkin aku akan keluar dari rumah sampai mas Angga pulang, daripada harus berduaan dengan pemuda tengil bernama Sanca yang sungguh membuatku tak nyaman.

“Mba, mahrom itu apa sih mba?” Sanca tiba-tiba muncul di depan kamar kerjaku…tiba-tiba atau sudah sedari tadi,aku juga tak sadar.

“ Mahrom kalau menurut ibnu katsir orang-orang yang haram hukumnya untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, saudara,paman,dan lain-lain.” Jawabku singkat.

“Kata mba kemarin aku bukan mahrom,mbak…berarti….heheheh…just joke, don’t be angry like that.” Sanca cengengesan, melihat aku melotot marah. Aku segera keluar kamar menuju dapur, mo ngambil minum…untuk meredakan kemarahan yang rasanya sampai tenggorokan.

“Mba, rambut mbak sampai di mana sih, aku boleh liat gak.” Haaa, entah kepolosan atau keusilan Sanca, yang jelas aku sampai menyemburkan air yang baru saja aku minum saking kagetnya.

“Jangan macam-macam kamu, San…mba laporin mas Angga tau rasa kamu…”

“Ih, you look so beautiful when angry like that. Come on, mbak….just want to see it.” Sanca mulai berani maju dua langkah.

Ku pegangi ujung jilbabku yang besar, berharap Sanca tak benar-benar serius dengan niatnya melihat rambutku. Sanca semakin berani menambah langkahnya, dan kali ini kami sudah berkejar-kejaran mengelilingi meja makan…

“Sanca hentikan….!!Atau aku teriak!” Ancamku sambil berlari kali ini mengelilingi meja tamu.

Hosh….hosh…..hosh……hosh….Aku mulai kecapean…sesak napas..dan seketika aku sudah lupa di ruang mana terakhir aku berlari.

****

Di rumahsakit, Mas Angga berjalan mondar-mandir…hilir mudik…..menunggui ku yang terbaring..belum siuman. Sesaat kemudian….

“Mas….tolong….”kataku lirih…

“Sarah,kamu gak papa…?”Mas Angga kelihatan panik.

“ Cuma sesak dikit mas..”

“Asma kamu kambuh…kata Sanca kamu jogging di dalam rumah?Benar?”

“Haaah…anak itu!mana dia mas?!Dia yang bawa aku ke sini?!” Aku mulai emosi..

“Bukan Sar, aku ngebut pulang ke rumah begitu ditelpon Sanca kalau kamu pingsan.” Niatku untuk mengadukan Sanca kuurungkan, begitu telpon selular milik Mas Angga berbunyi, ia lalu memberi isyarat untuk meninggalkan ku sebentar. Sebuah pesan singkat masuk di telpon selular milikku,berbunyi:            “ I cannot see ur hair but I hope oneday u’ll allow me to see it,hehe..Sanca.”

Asma ku kumat lagi…….tapi, kusempatkan menghapus sms dari Sanca, sebelum Mas Angga melihatnya…Sebaiknya Mas Angga tak perlu tahu…ulah adiknya, Sanca yang membuatku sesak napas.

Stuck in the moment..again

@cheitumminyafardais

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s